Sedikit ingin bercerita mengenai kehidupan menyebalkan yang sudah ku jalani dalam 2-3 tahun terakhir.
Saat itu, 2018 adalah titik dimana aku tersedar bahwa yang membawaku kepada kebahagiaan adalah diriku sendiri.
Setelah tidak punya keluarga, ku putuskan untuk tidak berhubungan dengan laki-laki manapun termasuk seseorang yang menemani dan mendukung ambisi belajar ku sejak 2013 lalu.
Tiga tahun hidup merantau dan jarang untuk pulang ke rumah, aku dibentur berbagai macam tantangan hidup. Sakit pelik dan perihnya tentu saja aku sembunyikan lewat tulisan—puisi; cerpen-cerpen yang aku tulis bahkan tak sedikit ada pada tumpukan kertas yang sampai sekarang menggunung disudut indekos dan sengaja ku tinggal.
Rasa kesepian dan merasa sendiri adalah suatu kebiasaan bagiku dan Beberapa orang memanfaatkan keadaan untuk dapat yang Ia mau, tapi kupikir kembali bahwa “Tuhan tidak akan menciptakan atau memberi kamu lebih jika orang lain tidak merasa kurang”.
Alasan klise yang sering aku pakai adalah ‘aku ga tega’ padahal dibalik itu semua, orang lain berbondong-bondong memperlakukanku dengan tega. Mereka sendiri mungkin tak sadar Aku sadar atas apa yang mereka lakukan.
Namun dibalik itu semua, Tak ada yang merasa kesakitan disini; aku sudah terbiasa dengan kehidupan penuh tikaman. Tapi satu hal yang perlu diingat, Aku ini masih manusia dan akan tetap memperlakukan orang lain sebagai manusia dan tidak diperlakukan sepertiku.
Bogor, 12 Mei 2021.
Rabu, 12 Mei 2021
Another Level of Curhat-1
Langganan:
Postingan (Atom)